Diberdayakan oleh Blogger.
.

Yogyakarta (2)

Yogyakarta (2)[1]

Dalam setiap langkahku menyusur kota ini,
ada rindu pada tiap sudutmu yang suka menyapa ramah dengan senyuman.

Tapi tak apa kusimpan dulu, asal aku diizinkan untuk pulang lagi.

--

Selamat sore,
adakah kau masih berhati nyaman di sana?

Dan bila nanti aku kembali
semoga gedung-gedungmu tak semakin tinggi lantas menutupi Merapi.[2]


[1] 15:05 GMT, 27 November 2014. Fenham, Newcastle upon Tyne.
[2] Bait terakhir saya kutip dari twit @moyangkasih

 
 

Apa itu IELTS?

Apa itu IELTS?[1]
 
Jika anda bingung tentang apa yang harus dilakukan pertama kali untuk melanjutkan studi di luar negeri, maka saya sarankan (setelah memantapkan niat tentunya) belajarlah IELTS! Kenapa? Karena berdasarkan pengalaman, selain sebagai syarat administrasi untuk mendaftar ke universitas luar negeri dan syarat untuk mendapatkan beasiswa, IELTS juga akan berguna dalam berbagai tahapan dalam proses pendaftaran tersebut. Semisal ketika anda akan mendaftar PhD, anda akan diminta untuk menyusun proposal. Atau ketika mendaftar master, anda akan diminta menuliskan statement of purpose. Proposal penelitian dan statement of purpose tersebut perlu anda tulis dengan gaya bahasa khusus (academic writing) yang gaya bahasa tersebut bisa anda pelajari ketika belajar IELTS.

Selain itu, selama proses pendaftaran anda juga akan banyak berkomunikasi dengan tim admisi kampus tempat anda mendaftar atau dengan supervisor (lebih-lebih jika harus wawancara). Nah, karena ini dalam lingkup kegiatan akademik, anda harus menggunakan bahasa formal dalam komunikasi tersebut—yang bahasa formal tersebut juga dipelajari di IELTS.
 
Berikut penjelasan ringkas 5W + 1H mengenai IELTS.

Apa itu IELTS?
IELTS merupakan singkatan dari International English Language Test System, semacam sistem yang dirancang untuk melakukan sertifikasi atas kemampuan Bahasa Inggris seseorang. Bisa dibilang IELTS mirip dengan TOEFL—yang lebih terkenal di Indonesia. Yang bertanggungjawab melaksanakan tes IELTS di seluruh dunia adalah tiga lembaga berikut: University of Cambridge ESOL Examinations, British Council, dan IDP Education Pty Limited. Untuk informasi lebih lanjut bisa diakses di laman resmi ielts www.ielts.org.

Apa bedanya IELTS dan TOEFL? Saya kurang tahu detail perbedaannya karena belum pernah mengikuti tes TOEFL resmi. Hanya saja ada dua hal yang saya ketahui. Pertama, IELTS di rancang berorientasi pada Bahasa Inggris British (Australia, Canada, New Zealand, dan UK) sedangkan TOEFL berorientasi pada Bahasa Inggris American. Kedua, sepengamatan saya, daya jangkau IELTS kini lebih luas di universitas-universitas eropa daripada TOEFL (terkhusus di UK). Dengan kata lain, ada beberapa universitas yang hanya mau menerima IELTS saja, dan tidak lagi mau menerima TOEFL.
Sebenarnya IELTS ada dua jenis, yaitu academic dan general training. Academic dirancang untuk kebutuhan studi undergraduate dan postgraduate level. Sedangkan general dirancang untuk mereka yang ingin pindah (bermigrasi) ke English-speaking Country (Australia, Canada, New Zealand, dan UK) dan juga untuk kebutuhan training dan studi di bawah level undergraduate (SMA, dst). Nah, yang akan saya jelaskan di bawah hanyalah IELTS academic.

Bagaimana test IELTS?
Test IELTS terdiri dari 4 komponen: listening, reading, writing, dan speaking. Berikut rincian sesi, jumlah soal, dan waktu dari masing-masing komponen tersebut:

1. Listening terdiri dari 4 sesi, total 40 soal, waktu 30 menit.
2. Reading, 3 sesi, 40 soal, 60 menit
3. Writing, 2 soal, 60 menit.
4. Speaking, 3 sesi, 11-14 menit (diwawancarai oleh Native speaker (penutur bahasa asli)).

Sehingga total waktu tes IELTS berkisar sekitar 2 jam 44 menit.
Hasil dari tes IELTS akan diterbitkan dalam skala 1-9 untuk masing-masing sesi tersebut. Dan untuk hasil akhirnya tinggal dirata-ratakan—masing-masing komponen memiliki porsi yang sama, yaitu 25%. Sebagai gambaran, kebanyakan universitas di UK mempersyaratkan nilai minimal 6,5. Namun ada juga yang 6, dan untuk universitas top biasanya mempersyaratkan 7.

Dan untuk ekuavalensi nilai IELTS ke TOEFL, sebenarnya tidak ada rilis resmi dari penyelanggara IELTS,  namun kutipan dari http://www.eurogates.nl/en-TOEFL-IELTS-score-conversion/ bisa memberikan gambaran kasar.
 
Dimana test IELTS?
Test IELTS tidak diselenggarakan di seluruh kota di Indonesia. Anda bisa browsing di kota mana saja tes IELTS di selenggarakan. Pengalaman saya dulu ketika di Jogja, di Jogja sebenarnya ada dua lembaga yang menyelanggarakan IELTS. Namun sayangnya keduanya ketika itu sudah penuh sehingga saya harus mengikuti tes di Solo.
Sebagai tips, sebelum anda memastikan untuk mendaftar dimana, mungkin ada baiknya anda mencari tahu bagaimana pengalaman orang-orang yang sudah tes di sana, apakah kondisinya kondusif (terkhusus untuk listening). Saya memiliki teman yang katanya pernah tes IELTS di Jakarta yang kedapatan duduk di belakang dan sayangnya suara di belakang terdengar kurang maksimal. Saya sangat merekomendasikan tes IELTS di Solo karena (ketika itu) tes diselenggarakan di kelas-kelas kecil yang hanya diisi oleh 6 orang per kelasnya, sehingga suara listening test sangat terdengar jelas.

Kapan test IELTS?
Tanggal test IELTS sudah ditetapkan sepanjang tahun oleh masing-masing lembaga penyelenggara yang bisa anda telusuri di internet. Sepengetahuan saya tes selalu diselenggarakan setiap hari Sabtu  dan hasilnya akan diterbitkan setelah 13 hari setelah tes (hari Jumat). Hasil tes bisa dicek secara online dan print out-nya bisa dikirim alamat atau diambil di representative di tiap-tiap kota.

Jika anda sudah memastikan kapan ingin tes IELTS, sebaiknya mendaftarlah 1-2 bulan sebelumnya.
Berapa biaya test IELTS?
Anda bisa browsing untuk biaya pasti tes IELTS. Sebagai gambaran, untuk tes yang diselenggarakan oleh IDP yang berlokasi di Semarang dikenakana biaya US$ 195. Lokasi tes di Yogyakarta & Solo dikenakan biaya tambahan sehingga menjadi US$ 220.

Mengapa belajar IELTS?
Saya dulu sempat salah sangka bahwa belajar IELTS hanyalah untuk mendapatkan sertifikatnya yang hanya digunakan untuk syarat administrasi. Tapi belakangan saya jadi tahu seluruh hal yang dipelajari di dalam IELTS sangat berguna untuk berbagai kebutuhan studi lanjut, baik untuk aktivitas dalam kampus atau pun luar kampus.

Belajar IELTS
Saya dulu mengambil kursus IELTS di Test English School di Pare, Kediri. Insya Allah akan saya tuliskan sendiri bagaimana pengalaman kursus IELTS di Pare.
Tulisan ini merupakan elaborasi kedua dari tulisan saya Langkah-langkah Melanjutkan PhD di Inggris dengan Beasiswa LPDP


[1] 07:28 GMT, 09 Nov. 14.Fenham, Newcastle upon Tyne.

Jiwa yang Tenang

Jiwa yang Tenang[1]

Sejenak aku terhenti. Lalu bertanya pada diri sendiri: akankah aku termasuk dalam orang-orang yang Allah seru dengan seruan ini?
Hai jiwa-jiwa yang tenang… kembalilah engkau kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoinya.. Maka masuklah engkau ke dalam golongan hamba-hambaku… dan masuklah engkau ke dalam surgaku..” (Al Fajr 27-30)
Allahumma inni as-alukal jannah.

[1] 11:04 GMT, 04 November 2014. Fenham, Newcastle upon Tyne.

Apa, Mengapa, dan Bagaimana PhD?

Apa, Mengapa, dan Bagaimana PhD?[1]
 
Tulisan ini merupakan tulisan pertama dari elaborasi terhadap tulisan saya Langkah-langkah Melanjutkan PhD di Inggris dengan Beasiswa LPDP
Dalam pengelompokan cara belajar manusia menjadi empat tipe, saya tergolong orang yang theorist. Amat susah bagi saya untuk memulai sesuatu apabila belum mempelejari teorinya (dalam bentuk apapun). Termasuk juga dalam melakukan PhD. Sebelum saya memulainya, saya browsing ke sana ke mari dan bertanya ke sana ke sini tentang apa itu sebenarnya PhD.
Nah, apa yang akan saya tuliskan di bawah sebenarnya adalah hasil browsing dan bertanya tersebut[2]. Ada juga buku yang saat ini saya baca berjudul “How to Get PhD”, hanya saja belum selesai saya baca, sehingga belum bisa saya bagikan secara utuh pesan-pesan di dalamnya.
Saya mengerti, karena ini merupakan kajian pra-PhD, maka akan ada perubahan dari tulisan ini nanti setelah saya benar-benar memulainya, atau mungkin saja mendapat kritikan/masukan dari orang-orang yang sedang atau sudah melaksanakan PhD (yang sebenarnya sangat saya harapkan).
Apa itu PhD?
PhD adalah gelar yang diberikan kepada mereka yang berhasil menyelesaikan pendidikan strata 3 (doktoral atau sering disebut di Indonesia dengan ”S3”), dan merupakan singkatan dari Doctor of Philosophy. PhD merupakan gelar internasional. Perguruan-perguruan tinggi di tanah air tidak diperkenankan memberikan gelar PhD karena belum diakui dunia internasional. Karenanya, gelar yang diberikan di Indonesia hanyalah Dr. (doktor) bukan PhD. Tapi, itu hanya soal gelar. Baik di Indonesia atau pun di luar negeri, seseorang yang sudah menyelesaikan program doktoral tetap saja dipanggil “doktor”.
Untuk mengetahui standar apa yang harus dicapai untuk mendapatkan gelar PhD, berikut saya kutipkan langsung dari halaman 16 buku panduan akademik dari School saya (School of Engineering and Geosciences):
The programme aim is to provide research training, to equip students with the knowledge, skills and experience to proceed to a successful independent research career in their chosen aspect of civil engineering and/or the geosciences. Accordingly, the objectives of the programme are:
• To assist students in defining, in detail, a suitable topic of research in which successful original investigations and tests of ideas can be carried out within the period of study.
• To guide students in the acquisition of any further theoretical and/or experimental skills needed to carry out these investigations.
• To promote the advanced learning and original scholarship, that students must carry out to establish and comprehend the relationship of their work to the wider field of knowledge.
• To advise students on the production of a successful thesis containing material worthy of publication.
• To encourage students to publish their work more widely, in international conferences and refereed journals.

...The PhD/EngD criteria are that the candidate must show ability to conduct original investigations, to test ideas, whether their own or others', and to understand the relationship of their work and its themes to a wider field of knowledge. A doctoral thesis should be a piece of work which a capable, well-qualified and diligent student, who is properly supported and supervised, can produce in three years of full-time study. It should exhibit substantial evidence of original scholarship and contain material worthy of publication.
Jika saya harus mensimplifikasi apa yang dilakukan selama PhD, maka akan saya tulis seperti ini:
Intinya, selama PhD anda harus menemukan sesuatu yang baru. Untuk menemukan itu, anda perlu melakukan penelitian. Untuk melakukan penelitian anda harus memiliki skill dan pengetahuan untuk meneliti, juga rancangan penelitian yang jelas. Untuk mendapatkan skill dan pengetahuan untuk meneliti, anda perlu mengikuti beberapa course yang sudah (atau pun belum) disiapkan oleh pihak kampus dan supervisor. Dan untuk mendapatkan rancangan penelitian yang jelas, anda harus menyusun rencana proposal. Mengikuti course dan menyusun proposal adalah aktivitas utama pada tahun pertama sampai kedua pada program PhD. Setelah itu, barulah bisa melakukan pengambilan data dan melakukan analisis.
Apa itu riset?
If I’m not misataken, saya pernah membaca di sebuah buku bahwa sampai saat ini tidak ada kesepakatan tentang apa definisi riset. Saya dulu pernah meng-copas definisi riset yang simpel dari sebuah blog. Berikut saya kutipkan secara langsung[3]:
...penelitian itu upaya tiada henti untuk menemukan sesuatu yang BARU dan BERGUNA. Baru artinya di seluruh dunia belum pernah ada yang melakukan seperti yang kita lakukan. Berguna artinya kita tahu hasil penelitian ini bakal dibuat apa nantinya, bukan sekedar untuk memuaskan keingintahuan saja.
Untuk bidang engineering, tidak perlu sampai menemukan rumus baru atau material baru. Yang umum dilakukan adalah menyusun metode baru untuk menghitung / mengukur sesuatu, memperbaiki metode yang sudah ada, menerapkan metode yang sudah ada untuk memecahkan kasus yang di seluruh dunia dari jaman Nuh sampai sekarang belum berhasil dipecahkan, atau combine two methods in a smart way...
Apa bedanya dengan S1 dan S2?
Gambar dan deskripsi singkat berikut saya temukan dari blog Matt Mights (di http://matt.might.net/articles/phd-school-in-pictures/), sangat baik untuk mendelineasi beda antara S1, S2, dan S3:

Imagine a circle that contains all of human knowledge:

By the time you finish elementary school, you know a little:

By the time you finish high school, you know a bit more:
With a bachelor's degree, you gain a specialty:
A master's degree deepens that specialty:
Reading research papers takes you to the edge of human knowledge:
Once you're at the boundary, you focus:
You push at the boundary for a few years:
Until one day, the boundary gives way:
And, that dent you've made is called a Ph.D.:
Of course, the world looks different to you now:
So, don't forget the bigger picture:
 

Keep pushing.
Tentang Keterikatan dengan supervisor
Tidak ada kurikulum/silabus yang harus anda ikuti selama program PhD. Yang menentukan apa yang harus dilakukan adalah anda dan supervisor anda. Peran supervisor sangat besar dalam proses PhD. Anda akan sangat intens berkomunikasi dengan supervisor sehingga akan menyebabkan keakraban. Karena akrab, anda akan sangat mungkin diminta untuk mengajar atau memberikan tutorial pada anak-anak S1. Supervisor jugalah yang paling menentukan apakah anda akan diterima melaksanakan sebuah program doktoral di sebuah kampus atau tidak. Kalau tidak ada yang bersedia menjadi supervisor anda, kampus tidak akan menerima.
Mengapa melanjutkan studi PhD?
Mereka yang memilih untuk melanjutkan PhD hampir bisa dipastikan adalah mereka yang akan menjadi peneliti, baik di universitas atau di lembaga riset lainnya. Atau jika ingin bekerja di perusahan swasta, bisa menjadi staf R&D. Sebenarnya ada saja PhD yang tidak menjadi itu semua, cuma persentasenya tidak seberapa.
Bagaimana menjalankan PhD?
Ada banyak sebenarnya modal yang harus anda miliki agar bisa menjalankan PhD. Namun saat ini yang terlintas oleh saya hanya satu: anda harus rajin membaca. Bila anda malas/memiliki kelainan sehingga tidak bisa membaca, sebaiknya pikir lagi untuk mengambil PhD. Karena PhD adalah  mencari/menemukan sesuatu yang baru, untuk menemukan/mencari itu anda harus tahu terlebih dahulu pengetahuan yang ada sekarang, sudah sampai dimana? Yang itu bisa dijawab hanya dengan banyak membaca.
Ragam PhD di Berbagai Negara
Di UK, untuk menyelesaikan program PhD butuh waktu 3-4 tahun. Sedangkan di USA, butuh waktu 5 tahun. Dan banyak negara yang merancang program PhD yang berbeda lagi. Setahu saya sekarang PhD hampir seluruhnya memiliki pilihan untuk full-time / part-time. Waktu yang saya sebutkan tadi adalah waktu untuk full-time. Jika anda mengambil program part-time, maka tinggal kalikan dua. Semisal di UK, untuk PhD part-time akan memakan waktu 6 tahun.

[1] 19:26 BST, 28 October 2014. Newcastle upon Tyne. Tulisan ini saya tulis beberapa pekan sebelum saya memulai program PhD, dan saya tambahi sedikit setelah saya menjalankan PhD sekitar dua minggu.
[2] Saking banyaknya saya tidak terlalu ingat dari mana saja sumbernya, karena itu apa yang saya tulis di sini tidak mencantumkan sumber kutipan secara rinci.

Merencana

Merencana[1]

Kemarin, ketika saya sibuk pindah-pindah file dari laptop lama ke laptop baru, saya sangat terenyuh ketika menemukan file-file rencana pribadi yang pernah saya buat selama saya S1 dan S2. Rencana-rencana tersebut adalah rencana yang dulu pernah saya buat untuk menentukan bagaimana caranya agar saya bisa lulus S1 dalam 4 tahun dengan predikat cum laude—yang saya rinci menjadi target nilai per mata kuliah hingga jadwal harian saya pada tiap semester. Ada juga rencana magang dan KP, rencana capaian tahfizh dan bahasa Arab, dan tentu rencana untuk menyelesaikan S2 dalam kurang dari dua tahun juga dengan prediket cum laude. Terlalu banyak rencana dan target yang harus saya tuliskan jika harus saya ceritakan semua dari apa yang pernah saya susun. Dan Alhamdulillah, Allah mengizinkan saya untuk merealisasikan mayoritas rencana-rencana tersebut sesuai target.

Yang menarik adalah rencana yang saya susun ketika awal menjalani program master. Karena kesibukkan saya ketika itu, saya sepertinya lupa untuk mengecek dan mengevaluasi capaian rencana tersebut secara berkala, selama saya S2. Saya baru membukanya kembali sebelum berangkat ke UK.  Namun yang membuat saya terenyuh adalah ternyata apa yang saya jalani selama ini telah sesuai dengan rencana itu (secara umum). Bagaimana bisa? Pada awalnya saya menduga itu karena saya telah berhasil membisikkan alam bawah sadar saya ketika awal saya menyusun rencana untuk memilih jalan ikhtiar sesuai rencana tersebut. Tapi belakangan saya menduga itu adalah bimbingan Allah yang datang karena doa orang tua saya, wallahua’lam.

Saya tidak bercerita pada siapa-siapa tentang rencana-rencana pribadi yang saya buat, kecuali pada orang tua saya. Kenapa? Saya berharap doa mereka. Terkhusus ibu. Saya sering berkata pada ibu saya, “ma, aku rencananya mau begini dan begitu”. Berharap beliau mendoakan agar Allah mengizinkan saya untuk melakukan rencana itu.

Saya juga adalah orang yang resah jika melakukan sesuatu tanpa jelas rencananya, baik jangka pendek atau pun jangka panjang. Barangkali sikap seperti ini adalah pengaruh ilmu perencanaan yang saya tekuni. Karena memang, di antara prinsip saya: kalau kamu gak bisa merencana dirimu sendiri,  jangan harap merencana kota.

Dan dari perjalanan saya sampai sini, saya ingin berkata: teruslah rencanakan hidup anda. Lalu berusalah untuk mencapainya dengan iringan doa. Lalu serahkan hasilnya pada Allah. (Baca tulisan saya: Plan Your Future!)

Dan ingat, proyek perencanaan terbesar yang harus kita lakukan pertama kali sebenarnya adalah bagaimana mendapatkan surga. Pahamilah, bahwa segala rencana untuk menyelesaikan S1, S2, S3, bekerja, dst hanyalah sasaran antara, atau bisa disebut dengan sarana. Tujuan utama kita adalah surga.

Dan kini saya sedang menyusun rencana berikutnya: menyelesaikan studi PhD dan rencana-rencana lainnya pasca PhD. Saya memuji Allah atas semua nikmat ini. (Baca tulisan saya: Syukur (3))

Nb: (1) yang dimaksud merencana adalah menentukan target dan menentukan cara untuk mencapai target tersebut. (2) gambar di bawah adalah screenshoot di antara rencana yang pernah saya buat.

[1] 07:43 BST, 23rd October 2014. Fenham, Newcastle upon Tyne.
 
 

Terimakasih (2)

Terimakasih (2)[1]

Aku masih di sini.
Dan rasanya, hingga kini aku masih belum menemukan cara, bagaimana sebenarnya aku harus berterimakasih padamu? Pada banyak hal yang telah kau ajarkan: untuk menjadi anggun dalam diam, untuk menguatkan dalam rasa saling percaya, dan untuk menjaga dalam kesabaran.
 
Terimakasih--aku sungguh tak tahu bagaimana harus mengungkapkannya.
 

Siapa itu yang berdiam dalam keanggunan?
Tanpa perlu mengucap apa-apa.
Ialah puisi yang merajut cinta dengan bumi dan rahasia
Hingga semua jiwa bergetar saat pulang ke pelukannya.[2]


[1] Dilston Road, Newcastle upon Tyne. 07: 51 AM, 18 October 2015.
[2] Sajak Dee dalam Perempuan dan Rahasia.

Pesta Hujan


Pesta Hujan[1]
Tunggu aku.
Begitu banyak prosesi yang telah kusiapkan untuk pesta hujan kita nanti:
Mulai dari memandangi bagaimana langit memendung, merasakan angin berdesau, mengindrai wangi tanah yang membumbung, lalu menyaksikan bagaimana hujan mulai merubung tanah dengan rinainya.
Kalau kau mau, kita juga bisa berlari-lari di dalamnya. Lalu berhenti untuk berdekapan erat. Tak ada yang perlu kita sembunyikan di rinai hujan itu. Kita bisa menghambur air mata. Kita tak perlu segan menangis. Hujan itu yang akan menjadi ruang bagi kita berbicara tanpa perlu ada keberpuraan. Dan aku akan berkata:
“Lihatlah, ada hujan di sekeliling kita.”


[1] Hujan Pagi, 06: 34 WIB, 4 Oktober 2014 (Hari Arofah). Kayu Manis, Pekanbaru.
 
 

Jika Suatu Saat Kau Jadi Ibu

Jika Suatu Saat Kau Jadi Ibu

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, ketahuilah bahwa telah lama umat menantikan ibu yang mampu melahirkan pahlawan seperti Khalid bin Walid. Agar kaulah yang mampu menjawab pertanyaan Anis Matta dalam Mencari Pahlawan Indonesia: "Ataukah tak lagi ada wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan? Seperti wanita-wanita Arab yang tak lagi mampu melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid?"

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah seperti Asma' binti Abu Bakar yang menjadi inspirasi dan mengobarkan motivasi anaknya untuk terus berjuang melawan kezaliman. "Isy kariman au mut syahiidan! (Hiduplah mulia, atau mati syahid!)," kata Asma' kepada Abdullah bin Zubair. Maka Ibnu Zubair pun terus bertahan dari gempuran Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi, ia kokoh mempertahankan keimanan dan kemuliaan tanpa mau tunduk kepada kezaliman. Hingga akhirnya Ibnu Zubair syahid. Namanya abadi dalam sejarah syuhada' dan kata-kata Asma' abadi hingga kini.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah seperti Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya. Saat itu sang anak masih remaja. Usianya baru 13 tahun. Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar. Rasulullah tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih. Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain. Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur'an. Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu. Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini: Zaid bin Tsabit.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah. Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu. Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam Madzhab. Ia tidak lain adalah Imam Ahmad.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya. Seperti Ummu Habibah. Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya. Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya: "Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu. Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya. Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, amin!". Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya: Imam Syafi'i.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya Abdurrahman. Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu. "Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram...", katanya memotivasi sang anak. "Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam masjidil haram...", sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan. Hingga akhirnya Abdurrahman benar-benar menjadi imam masjidil Haram dan ulama dunia yang disegani. Kita pasti sering mendengar murattalnya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama Abdurrahman As-Sudais.


Nb: Saya tidak tahu persis siapa penulis asli tulisan ini dan darimana sumber aslinya. Silakan googling dengan judul di atas, tulisan ini sebenarnya sudah tersebar luas.


Sumber gambar

Tentang Tanah dan Hujan (2)

Tentang Tanah dan Hujan (2)[1]

Puisi hujan kini tak lagi milik bulan Juni. Puisi hujan kini adalah milik tanah di bulan-bulan terik sepanjang tahun. Deretan aksara yang jadi tempat menuangkan segala rasa rindu milik tanah—rasa basah berkelabat karena rintik-rintik hujan yang mencecah.

Pada mulanya tanah sempat bertanya-tanya: apa manusia yang sebenarnya menjadi sebab hujan terkadang malu menemuinya? Manusia—yang jika hujan datang—sering gusar karena harus mencari tempat bernaung. Bahkan terkadang tega mengumpat dan berdecak kesal.

Tapi cepat tanah tersadar. Bukan. Bukan itu alasannya. Tanah tahu, Hujan terlalu tabah dan bijak untuk hanya merespon kelakar manusia-manusia itu. Ada semesta yang lebih besar yang membutuhkannya. Bukan hanya manusia.

Pada akhirnya, kalimat terakhir hujan sebelum berpisah membuat tanah tahu jawabannya.

“kamu juga butuh matahari, kamu juga butuh terik”, kata hujan waktu itu.

Kini tanah hanya bertanya: benarkah tak ada yang lebih tabah dan bijak dari hujan di bulan Juni?

Barangkali aku”, kata tanah.


[1] Menunggu hujan. 17:43 WIB, 15 September 2014. Cimanggis, Depok.


Kepada

Kepada

Pada gelas kaca dan penutupnya,

Pada miniatur kastil Praha,

Pada kursi berlengan berpelitur,

Dan pada lampu yang bersinar sederhana,

Izinkan aku jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya.

----
18:37 WIB, 7 September 2014. Pogung Dalangan, Yogyakarta.

Langkah-langkah Melanjutkan PhD di Inggris dengan Beasiswa LPDP

Langkah-langkah Melanjutkan PhD di Inggris dengan Beasiswa LPDP[1]

Teramat besar rasa bersalah yang akan saya rasakan apabila saya tidak membagikan informasi mengenai  cara untuk melajutkan PhD di Inggris. Alasan pertama karena dengan tidak membagikan informasi tersebut, bagi saya itu sama saja dengan membiarkan orang lain terperosok dalam lobang yang sama. Saya tidak ingin membiarkan mereka yang ingin meniti langkah yang sama dengan saya mengalami kesusahan yang sama pula. Saya ingin mereka lebih mudah nantinya karena sudah mempelajari dari apa yang telah saya lalui. Kedua, sudah banyak orang yang bertanya tentang cara-cara tersebut kepada saya. Saya pikir, agar lebih mudah ada baiknya saya tuliskan saja sehingga nanti bila ada yang bertanya kembali, saya tinggal merefer ke blog ini.

Sebenarnya tentu sudah banyak tulisan yang tersebar di dunia maya atau pun dunia nyata yang mirip dengan apa yang akan saya tulis di sini. Tapi saya tetap saja ingin menuliskannya karena tentu akan ada kasus yang berbeda, sedikit banyaknya. Selain itu, bedanya dari tulisan yang lain, saya berniat akan melengkapi dengan penjelasan timeline/lamanya waktu yang dibutuhkan dan dilengkapi juga dengan contoh langsungnya dari tiap-tiap langkah yang harus dilalui, semisal contoh proposal penelitian, email korespondensi, dan personal statement—yang keduanya saya lihat masih jarang ada di tulisan-tulisan lain di dunia maya. Alasan yang mendorong saya untuk melampirkan contoh adalah karena saya tahu betul bahwa sebagian dari mereka yang ingin sekolah ke luar negeri masih memiliki kemampuan bahasa Inggris yang terbatas—termasuk saya. Untuk berkomunikasi dengan pihak kampus saja terkadang susahnya minta ampun untuk menyusun kata-kata. Bahkan terkadang harus minta direview dulu oleh teman, atau minimal direview oleh google translate. hehe

To cut long story short, pada tulisan ini saya hanya akan menyampaikan langkah-langkah umum saja yang akan diberi penjelasan singkat. Untuk rinciannya, saya akan muat di tulisan yang berbeda—yang insya Allah akan bertahap saya tulis ke depannya. Well, berikut langkah-langkahnya:

        Mantapkan niat untuk PhD
Kaedah dalam beragama—sesungguhnya amalan itu bergantung dari niatnya—juga berlaku dalam mengambil studi PhD. Karenanya, pertanyaan pertama yang harus anda jawab sendiri sebelum memutuskan untuk melakukan langkah-langkah berikutnya adalah: apa yang anda harapkan dari PhD? Nah, untuk membantu anda menjawab pertanyaan tersebut, sebenarnya ada lagi beberapa pertanyaan lainnya yang harus anda jawab in advance: sebenarnya apa itu PhD? Semoga tulisan saya berikut bisa membantu anda menemukan jawabannya: Apa, Mengapa,dan Bagaimana PhD?

        Mantapkan bidang riset yang akan anda tekuni dan temukan supervisor yang cocok
Menjadi mahasiswa PhD adalah menjadi ahli di bidang yang sangat spesifik. Bisa jadi hanya ada segelintir orang yang ahli di dunia ini dalam bidang tertentu. Ada beberapa tips sebenarnya untuk menentukan bidang riset apa yang baik untuk anda ditekuni. Tips tersebut saya tuliskan berbarengan dengan tips cara mencari supervisor yang cocok dalam tulisan berikut: Menentukan Bidang Riset dan Mencari Supervisornya.

      Belajar dan tes IELTS
Mempelajari dan melakukan tes IELTS hemat saya adalah di antara langkahawal yang harus diambil. Alasannya karena ketika anda telah memutuskan untuk mendaftar PhD, anda akan banyak menggunakan Academic English seperti menyusun proposal, membuat personal statement, diwawancarai oleh supervisor, dll. Dan IELST dirancang sesuai kebutuhan itu semua. Tentang apa itu IELST sila simak tulisan saya berikut: Apaitu IELTS? Dan bila anda berniat untuk mengambil IELTS Preparation, tulisan saya Pengalaman Kursus IELST di Pare bisa menjadi salah satu pertimbangan. Dan apabila anda langsung ingin tes IELTS saja, tulisan saya mengenai Dimana dan Bagaimana Test IELTS barangkali bisa membantu.

      Susun proposal penelitian
Proposal penelitan merupakan hal yang paling berpengaruh dalam penilaian anda akan diterima atau tidak sebagai mahasiswa PhD di sebuah kampus. Saya akan menuliskan tips-tips menulis proposal Phd pada tulisan berikut: Tips Menulis Proposal PhD. Pada tulisan tersebut saya lampirkan pula proposal penelitian yang dulu saya gunakan untuk mendaftar PhD di Inggris.

      Hubungi supervisor dengan melampirkan proposal
Pengalaman saya berkorespondensi dengan supervisor akan saya tuliskan pada tulisan: Menghubungi Supervisor. Akan saya ceritakan lika-likunya dan akan saya lampirkan email-email saya kepada beberapa Profesor yang pernah saya hubungi.

        Mendaftar secara resmi ke kampus
Proses pendaftaran universitas di Inggris seluruhnya bisa dilakukan secara online. Karena itu, terlebih dahulu anda perlu untuk membuat akun pendaftaran pada portal pendaftaran masing-masing kampus. Namun sebelumnya, saya sangat menyarankan anda untuk membaca petunjuk pendaftaran yang biasanya juga memuat tentang apa saja yang perlu anda persiapkan untuk mendaftar. Meskipun ada peluang masing-masing kampus meminta persyaratan yang berbeda, namun secara umum persyaratannya adalah:
   1.       Ijazah dan transkrip nilai S1 dan S2 asli dan translate
   2.       Proposal penelitian
   3.       Sertifikat IELTS—standar IELTS masing-masing kampus dan jurusan berbeda, dari 6.0 hingga 7.0
   4.       Scan paspor
   5.       Dua surat rekomendasi
   6.       Statement of Purpose
   7.       CV
Untuk tips menyusun surat rekomendasi dan statement of purpose, silakan baca tulisan saya berikut: Contoh Recommendation Letter dan Personal Statement.

         Menunggu wawancara
Setelah pendaftaran selesai dan persyaratan lengkap, biasanya beberapa kampus ada yang mempersyaratakan wawancara via skype—namun ada juga yang tanpa wawancara. Biasanya wawancara dilakukan beberapa hari atau bahkan beberapa minggu setelah pendaftaran selesai. Nah, sambil menunggu wawancara saya menyarankan anda untuk banyak membaca referensi terbaru dari bidang riset yang akan anda geluti untuk mencari state of the art dari bidang tersebut. Juga, anda sangat perlu untuk membaca karya-karya dari supervisor yang akan mewawancarai anda. Hal ini penting demi kelancaran dan nilai plus ketika proses wawancara.

         Melakukan wawancara
Mengenai teknis dan daftar pertanyaan ketika wawancara saya muat pada tulisan berikut: Wawancara PhD

         Mendapatkan offer letter
      Apabila wawancara anda memuaskan, maka insya Allah anda akan diterima di kampus yang anda inginkan. Tanda penerimaan tersebut biasanya adalah dikirimkannya offer letter ke email anda. Offer letter ada dua jenis, yaitu conditional (apabila masih ada persyaratan yang harus anda penuhi) dan unconditional (apabila persyaratan anda telah lengkap). Isi dari offer letter secara umum adalah mengenai rincian program yang akan anda ikuti: start date, supervisor, tuition fee, dll.

        Mengurus ATAS
Apa itu ATAS dan bagaimana cara mengurusnya? Silakan buka tulisan saya berikut: Apa dan Bagaimana ATAS?

          Mendaftar beasiswa LPDP
Saya pribadi memilih untuk mendapatkan offer letter dulu baru kemudian mendaftar beasiswa LPDP. Sebenarnya, bisa saja dibalik karena LPDP tidak mewajibkan adanya offer letter—bahkan kita diberi waktu satu tahun untuk mendapatkan offer letter apabila sudah mendapatkan beasiswa LPDP.
Nah, lalu apa dan bagaimana cara mendaftar LPDP, tiga tulisan saya berikut semoga memberikan gambaran utuh:
       -          Apa dan Bagaimana Mendaftar LPDP?
       -          Tips dan Trik Wawancara dan LGD LPDP
       -          Fakta Menarik tentang LPDP

      Pengumuman kelulusan beasiswa LPDP
Pasca wawancara dan LGD, biasanya hanya butuh 1-2 pekan bagi LPDP untuk mengumumkan hasilnya.

       Pasca Lulus LPDP
Ada beberapa tahapan lagi yang anda harus lalui pasca pengumuman kelulusan LPDP, diantaranya: mengurus surat perpindahan kampus (bagi yang pindah kampus), mengurus Letter of Sponsorship (LoS) untuk keperluan deposit kampus dan pembuatan visa, mengikuti program kepemimpinan, tanda tangan kontrak dengan LPDP, dan mengurus Letter of Guarantee (LoG). Tulisan berikut saya buat untuk merinci hal-hal tersebut:
       -          Mengurus Perpindah Kampus, LoS, dan LoG LPDP
       -          Program Kepemimpinan LPDP

       Unconditional offer letter /CAS
Apabila anda telah mensubmit seluruh persyaratan, termasuk LoS/LoG dari LPDP, anda akan mendapatkan kiriman email berisi CAS dari pihak kampus. CAS ini yang nantinya akan dibutuhkan untuk mengurus beberapa hal, seperti mengurus visa. Lebih lanjut tentang CAS, silakan baca: Apa itu CAS?

       Membuat/memperpanjang pasport
Sudah banyak sekali tulisan mengenai cara pembuatan dan perpanjangan pasport. Hanya saja saya ingin bercerita sedikit tentang cara perpanjangan pasport online—yang ini orang belum banyak tahu. Silakan simak di Perpanjang Paspor Online.

       Membuat visa
Tulisan mengenai cara membuat visa UK juga sudah sangat banyak di internet, di antaranya adalah tulisan sahabat saya berikut: di sini. Akan tetapi saya hanya ingin bercerita sedikit tentang pengalaman mengurus visa via agen pada tulisan berikut: Mengurus Visa Melalui Agen. Pada tulisan tersebut saya juga muat tentang daftar pertanyaan yang diajukan ketika wawancara visa.

      Mencari akomodasi
Simak tulisan saya tentang Mencari Akomodasi di Inggris untuk lebih jelasnya.

       Memesan tiket
Untuk mempermuda awardee-nya, LPDP telah bekerjasama dengan sebuah travel agent. Bila anda telah mendapatkan visa dan telah mengikuti program kepemimpinan, segera saja menghubungi pihak travel tersebut dengan memuat rincian data diri dan rincian rencana perjalanan. Apabila sudah yakin, minta tolong langsung issued saja.

      Menunggu keberangkatan
Nah, terakhir yang perlu anda lakukan adalah menunggu tanggal keberangkatan anda. Ada beberapa hal yang saya sarankan untuk dilakukan sebelum keberangkatan, diantaranya:
1.       Persiapkan segala sesuatunya yang perlu dibawa, baca tulisan saya Apa Saja yang  Perlu Dibawa ke Inggris untuk lebih lengkapnya.
2.       Belajar dan asah kembali kemampuan academic writing dan speaking anda
3.       Belajar dan perdalam lagi research method yang akan anda gunakan
4.       Pahami sistem pendidikan di Inggris secara umum, ada di blog atdikbud London.

Sebagai penutup, saya ingin memberikan beberapa poin tips di dalam menjalani banyak langkah di atas:


  1. Rencanankan semuanya dengan rapi dan baik karena banyaknya kegiatan yg berdeadline, sehingga perlu merencana yang mana yang didahulukan dan diakhirkan. Mana yg bisa dilakukan secara paralel, maka lakukanlah.
  2.  Saya mulai kursus di Pare (langkah no.3) pada Januari 2014. Setelah itu tahapannya tidak putus-putus sampai pada saat saya menulis artikel ini. Tips saya, fokuslah agar segala sesuatunya bisa maksimal. Saya pada tengah tahun ini sempat ragu untuk menolak tawaran riset bertemakan resilient city (gue banget) dari seorang profesor. Namun setelah melalui seluruh proses ini, saya merasa keputusan untuk menolak tawaran riset tersebut adalah tepat karena saya bisa fokus.

  3. Ada baiknya anda memisahkan email untuk pendaftaran kampus dan beasiswa dengan email untuk kebutuhan lain. Pengalaman saya pribadi, karena saya tergabung dalam beberapa milist yang cukup aktif, jadi pesan yang masuk cukup banyak dan cukup khawatir kalau ada email penting yang terlewat. Saran saya pribadi ada baiknya anda menggunakan Gmail dengan dua alasan. Pertama, karena nanti untuk PK LPDP menggunakan google group. Kedua, menurut saya gmail cendrung lebih aman. Pengalaman saya menggunakan yahoo, saya pernah terkena spam yang otomatis mengirimkan email spam ke kontak-kontak saya, termasuk para profesor yang ada. Jadi gak enakkan.

  4. Rapikan semua file terkait sehingga mudah untuk memanggilnya kembali. Buatlah per folder dan namai sesuai isinya. Berikut contoh penamaan folder saya:




Segitu dulu. Semoga hari-hari berikutnya saya diberi kemudahan untuk memenuhi tautan-tautan tulisan yang telah saya tuliskan pada poin-poin di atas.

Salam.
Muhammad Rezki Hr.


[1] 10:59 WIB, 28 Agustus 2014. Cimanggis, Depok.